Dalam rangka memperingati Hari Puputan Klungkung ke-118 sekaligus membuka Festival Semarapura ke-34 Tahun 2026, Bupati Klungkung I Made Satria membuka pameran keris yang berlangsung di Museum Semarajaya, Selasa (28/4). Kegiatan ini menjadi salah satu agenda utama dalam festival, dengan menampilkan beragam koleksi keris dan pusaka yang sarat nilai historis dan filosofi budaya Bali.
Peresmian ditandai dengan prosesi pemotongan pita oleh Bupati I Made Satria bersama Wakil Bupati Klungkung Tjokorda Gde Surya Putra, Raja Klungkung Ida Dalem Semaraputra, Komandan Resor Militer (Danrem) 163/Wira Satya Brigadir Jendral TNI Ida Idewa Agung Hadisaputra, serta jajaran pimpinan perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Kabupaten Klungkung.
Dalam sambutannya, Bupati Satria menekankan bahwa pelestarian dan promosi seni budaya daerah harus terus digencarkan sebagai bagian dari penguatan identitas lokal. Ia menyebut Festival Semarapura sebagai momentum strategis untuk memperkenalkan kekayaan budaya Klungkung kepada masyarakat luas, baik lokal maupun wisatawan.
Pameran ini menampilkan sekitar 104 bilah keris, yang terdiri dari keris sepuh maupun keris kamardikan (baru). Salah satu koleksi yang menarik perhatian adalah keris kamardikan berbentuk Kala Wisesa Leser dengan pamor kulit semangka, karya Mpu KRT Rudi Hartono Diningrat pada tahun 2005. Keris tersebut merupakan mutrani dari keris Pajenengan Puri Agung Klungkung milik Ida Dewa Agung Gde Oka Geg, dan saat ini dirawat oleh Wakil Bupati Klungkung, Tjokorda Gde Surya Putra.
Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Klungkung, I Wayan Suteja, menjelaskan bahwa pameran keris ini merupakan bagian integral dari rangkaian Festival Semarapura 2026 dan akan berlangsung hingga 1 Mei 2026. Selain pameran, kegiatan juga diramaikan dengan bursa keris yang menghadirkan perajin dan pedagang dari berbagai daerah seperti Lombok dan Jawa.
Tidak hanya itu, pengunjung juga dapat mengikuti workshop seni budaya yang memberikan wawasan tentang teknik pembuatan serta perawatan keris. Kegiatan edukatif ini dilaksanakan di halaman Museum Semarajaya dan mendapat sambutan positif dari masyarakat.
Melalui penyelenggaraan pameran ini, diharapkan masyarakat semakin memahami nilai luhur yang terkandung dalam keris sebagai warisan budaya bangsa, sekaligus memperkokoh peran Klungkung sebagai salah satu pusat pelestarian budaya di Bali.