Bupati Klungkung, I Made Satria, bersama Wakil Bupati, Tjokorda Gde Surya Putra, meninjau langsung uji coba resmi mesin pirolisis di Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS) Center Karangdadi, Kusamba, Klungkung, pada Selasa (9/6/2026).
Uji coba simbolis ini dihadiri oleh sejumlah pihak strategis, di antaranya Direktur Utama PT Inpac Internasional, A.A. Pablo Subamya, perwakilan PT Bali Bersih Bersinar, I Gede Kurniawan; serta Koordinator UNESCO untuk Asia Tenggara, Mr. Efrat. Turut hadir pula dari Everard Findlay, seorang global systems strategist yang bekerja sama dengan UNESCO GEM Report. Findlay, yang juga merupakan Ambassador of the Island of Knowledge Institute, sebelumnya pernah menjabat di GrowNYC Council of the Environment untuk New York City dan aktif berkontribusi pada berbagai inisiatif internasional di bidang keberlanjutan, pendidikan, serta pengembangan sistem.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Klungkung, Dewa Komang Aswin, menjelaskan bahwa seluruh komponen utama sistem pengolahan saat ini telah berhasil dirakit dengan baik.
“Komponen utama yang sudah siap meliputi mesin pirolisis, sistem pendingin, hingga jalur pengolahan hilir,” ujar Komang Aswin. Ia juga menambahkan bahwa kapasitas mesin yang tersedia saat ini, ditambah dengan unit yang akan datang, diproyeksikan mampu mengolah sampah sebesar 168 ton per hari.
Teknologi ramah lingkungan yang diadopsi dari Cook Island ini dikelola melalui kolaborasi antara PT Inpac Solutions Indo dan PT Bali Bersih Bersinar. Dengan kemampuan total pengolahan kumulatif yang diproyeksikan hingga 400 ton sampah per hari, teknologi ini diharapkan mampu mempercepat pembersihan gunungan sampah residu. Sebagai gambaran, kawasan TOSS Center maupun Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) tingkat desa di seluruh Klungkung rata-rata memproduksi sekitar 200 ton sampah per hari.
Bupati I Made Satria menegaskan bahwa kehadiran jajaran pemerintah daerah hari ini dilakukan untuk memastikan performa alat bekerja dengan optimal sejak tahap awal. Ia menjelaskan, teknologi pirolisis ini merupakan sistem yang direkomendasikan langsung oleh pemerintah pusat.
“Hari ini merupakan uji coba resmi karena pemerintah daerah turun langsung menyaksikan tahap demi tahap pengoperasiannya. Sistem kerjanya bukan pembakaran, melainkan pemanasan suhu tinggi (pyrolysis). Karena tidak dibakar, alat ini tidak menghasilkan asap melainkan uap air, sehingga sangat ramah lingkungan,” terang Bupati Satria.
Meski diklaim minim polusi, Pemkab Klungkung tetap akan melakukan pengujian emisi secara ketat dalam waktu dekat.
“Uji emisi tetap kita lakukan agar Pemkab memiliki dokumentasi ilmiah yang legal dan dapat dipertanggungjawabkan saat mesin ini mulai beroperasi penuh setiap hari untuk menangani persoalan sampah di Klungkung,” tegasnya.
Mengingat sistem mekanisasi yang digunakan tergolong mutakhir, operasional alat saat ini masih dipandu oleh sumber daya manusia (SDM) dari pihak investor. Namun, Bupati Satria meminta agar proses transfer teknologi segera berjalan.
“Kami meminta pihak investor melatih tenaga lokal Klungkung secara intensif agar kita bisa mandiri mengoperasikannya. Saat ini, astungkara, sudah ada beberapa SDM daerah yang mulai lancar mengoperasikan alat ini. Kerja sama dengan pihak ketiga ini harus menjadi solusi jangka panjang yang tuntas,” imbuhnya.
Ke depan, operasional TOSS Center ini akan diintegrasikan secara linear dengan program pengolahan sampah berbasis sumber guna memberikan edukasi langsung kepada masyarakat.
Kehadiran UNESCO dalam proyek ini menjadi nilai tambah tersendiri bagi Kabupaten Klungkung. Lembaga internasional tersebut berkomitmen untuk mengabarkan inovasi pengelolaan sampah ramah lingkungan di Klungkung ini ke panggung dunia. Sebagai bentuk keseriusan, UNESCO saat ini tengah membangun kantor perwakilan serta klinik kesehatan di dalam kawasan TOSS Center.
Melihat potensi besar tersebut, Bupati Satria menyampaikan visinya untuk mengubah wajah tempat pengolahan sampah menjadi area yang asri dan produktif.
“Saya berharap lingkungan TOSS Center Karangdadi ini terus ditata. Target kita ke depan, tempat ini tidak lagi dipandang sebagai lokasi pembuangan sampah yang kumuh, melainkan bertransformasi menjadi objek wisata edukasi bagi warga sekitar maupun wisatawan,” pungkasnya.